Selasa, 27 Maret 2012

PEMBELAJARAN MEMBACA AL QUR’AN DENGAN METODE AN–NAHDLIYAH


BAB I
PENDAHULUAN
PEMBELAJARAN MEMBACA AL QUR’AN DENGAN METODE AN–NAHDLIYAH DI LEMBAGA PENDIDIKAN  MA’ARIF NU CABANG TULUNGAGUNG
(Studi Multisitus di TPQ An-Nahd}iyah MIA dan TPQ An-Nahd}iyah Nurul Islam)
A.  Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat berbagai petunjuk untuk kehidupan manusia. Di dalamnya termuat ajaran hukum, akidah, etika, hubungan sosial, dan sebagainya. Keseluruhan isi al-Qur’an pada dasarnya mengandung beberapa pesan. Pertama, masalah tauhid, termasuk di dalamnya masalah kepercayaan terhadap yang gaib. Kedua, masalah ibadah, yaitu kegiatan-kegiatan dan perbuatan-perbuatan yang mewujudkan dan menghidupkan di dalam hati dan jiwa. Ketiga, masalah janji dan ancaman, yaitu janji dengan balasan baik bagi mereka yang berbuat baik dan ancaman atau siksa bagi mereka yang berbuat jahat, janji akan memperoleh kebahagiaan dunia akhirat, dan ancaman akan mendapat kesengsaraan dunia akhirat, janji dan ancaman di akhirat berupa surga dan neraka. Keempat, jalan menuju kebahagiaan dunia-akhirat, berupa ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan yang hendaknya dipenuhi agar dapat mencapai keridhoan Allah. Dan kelima, riwayat dan cerita, yaitu sejarah orang-orang terdahulu, baik sejarah bangsa-bangsa, tokoh-tokoh, maupun Nabi dan Rasul Allah.[1]  
Secara garis besar dari hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, kandungan al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, hukum-hukum yang berkenaan dengan i’tiqad (keyakinan) yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan iman kepada Allah Swt., malaikat-malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Ini menjadi bidang kajian ilmu kalam. Kedua, hukum-hukum yang berkenaan dengan akhlak (etika), yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan perilaku hati yang mengajak manusia untuk berakhlak mulia dan berbudi luhur. Ini menjadi bidang pembahasan ilmu akhlak. Ketiga, hukum-hukum yang berkenaan dengan amaliyyah (tindakan praktis), yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan semua tindakan yang dilakukan oleh manusia secara nyata, meliputi ucapan serta perbuatan yang berhubungan dengan perintah, larangan, dan penawaran yang terdapat dalam al-Qur’an. Hal ini menjadi pokok bahasan ilmu fiqh.[2]
Pokok kandungan yang ketiga ini secara dimensional mencakup pola hubungan vertikal dan horisontal. Amaliyyah yang berdimensi vertikal adalah amaliyyah yang berkenaan dengan hubungan hamba dengan Allah Swt. Bentuknya adalah ibadah. Bentuk ibadah bermacam-macam. Ada yang berbentuk ibadah mahdlah, seperti shalat dan puasa. Ada yang berbentuk ghairu mahdlah yang juga mengandung unsur mâliyyah-ijtimâ’iyyah (sosial-kebendaan) seperti zakat dan juga badaniyyah-ijtimâ’iyyah (sosial-jasmani) sebagaimana haji. Keempat jenis ibadah ini (shalat, puasa, zakat dan haji) dijadikan sebagai dasar Islam setelah iman. Adapun amaliyyah yang berdimensi horisontal adalah amaliyyah yang berkenaan dengan hubungan antar hamba satu dengan yang lainnya. Amaliyyah jenis ini dapat diklasifikasikan menjadi empat macam; (1) aturan syari’at yang berorientasi perluasan dan pengamanan dakwah Islam, yaitu jihâd. (2) aturat syari’at yang berorientasi membangun tatanan rumah tangga sebagaimana hal ihwal perkawinan, talak, nasab, pembagian harta pusaka dan lain sebagainya. (3) aturan yang berorientasi pada regulasi hubungan antar manusia seperti jual beli, persewaan dan lain sebagainya yang dikenal dengan mu’amalah (transaksi). (4) aturan atau undang-undang yang memuat sanksi atas tindak kejahatan. Hal ini diterapkan dalam qishâsh dan had.[3]
Menurut M. Quraish Shihab, al-Qur’an turun dengan memiliki beberapa fungsi. Pertama, bukti kerasulan Muhammad dan kebenaran ajarannya. Kedua, petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia, yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan. Ketiga, petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual dan kolektif. Keempat, petunjuk syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia. Atau dengan kata lain, al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[4]
Berdasarkan paparan di atas jelas dapat kita pahami bahwa kandungan al-Qur’an dan juga fungsinya sedemikian luas. Dengan kandungan dan fungsi tersebut, kita sebagai umat Islam dapat mendayagunakannya sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menyimak paparan di atas terlihat bahwa al-Qur’an memiliki peranan penting dalam kehidupan umat Islam. Ia menjadi rujukan pada semua persoalan kehidupan, mulai persoalan yang bersifat teori sampai praktik. Untuk memahami kandungan al-Qur’an sehingga dapat digunakan sebagai rujukan dalam kehidupan, syarat yang utama adalah mampu membacanya. Lewat membaca secara khusyuk dan didasari oleh keimanan, seorang muslim dapat mulai memahami maksud dan kandungan al-Qur’an.
Persoalannya, memahami al-Qur’an tidak mudah untuk dilakukan. Tidak semua orang mampu melakukannya. Membaca al-Qur’an membutuhkan proses pembelajaran secara tekun. Banyak orang yang belajar membaca al-Qur’an tetapi karena metode yang kurang tepat, hasilnya juga kurang memuaskan.
Pentingnya belajar membaca al-Qur’an ini sesuai dengan ayat pertama al-Qur’an:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ    

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS al-’Alaq [96]: 1-5).

Surat pertama al-Qur’an tersebut dengan sangat jelas memerintahkan membaca. Membaca merupakan kegiatan yang tidak sekedar melihat deretan huruf semata. Menurut Tarigan, membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memeroleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata/bahasa tulis. Hal ini dilakukan agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan dapat tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.[5]
Pengertian membaca yang dirumuskan antara satu ahli dengan ahli lainnya memang tidak sama. Tetapi secara substansial, rumusan tersebut bermuara pada hal yang sama, yaitu bagaimana menelaah kata-kata tertulis dalam sebuah teks. Membaca sendiri ada yang sebatas membaca, ada yang sampai pada taraf memahami, dan ada juga yang sampai pada taraf menggali makna dan membangun pengertian baru.
Bagi umat Islam, membaca yang memiliki nilai paling penting dalam kehidupannya adalah membaca al-Qur’an. Membaca al-Qur’an memiliki banyak sekali manfaat. Umat Islam yang mentradisikan membaca al-Qur’an akan dapat memetik banyak manfaat. Salah satunya, al-Qur’an merupakan penawar (obat) bagi penyembuhan penyakit rohani. Hal ini ditegaskan dalam surat al-Isra>’ ayat 82:  
ãAÍit\çRur z`ÏB Èb#uäöà)ø9$# $tB uqèd Öä!$xÿÏ© ×puH÷quur tûüÏZÏB÷sßJù=Ïj9   Ÿwur ߃Ìtƒ tûüÏJÎ=»©à9$# žwÎ) #Y$|¡yz  
”Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidak akan menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian ”.[6]

Pentingnya mempelajari al-Qur’an juga terdapat dalam al-Qur’an sendiri. Jika kita mengikuti bimbingan dari selain-Nya, meski bimbingan itu diikuti oleh kebanyakan orang, maka kita akan menemui kegagalan dalam proses belajar, bahkan hasil pembelajaran itu akan merugikan dan merusak kehidupan, tidak saja kehidupan kita sendiri tetapi juga kehidupan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam surat  QS. Al An’am [6] ayat 116-117)
ôìÎ7¨?$# !$tB zÓÇrré& y7øs9Î) `ÏB šÎi/¢ ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( óÚ̍ôãr&ur Ç`tã tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÉÏÈ   öqs9ur uä!$x© ª!$# !$tB (#qä.uŽõ°r& 3 $tBur y7»oYù=yèy_ öNÎgøŠn=tæ $ZàŠÏÿym ( !$tBur |MRr& NÍköŽn=tã 9@Ï.uqÎ/ ÇÊÉÐÈ  
“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu tidak ada Tuhan selain dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya). dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka”.

Proses pembelajaran al-Qur’an yang efektif harus merujuk kembali kepada tujuan belajar al-Qur’an, seperti yang tersebut dalam QS. Asy-Syu’a>ra’ [26] ayat 192-195 dan al-M>a>idah [5] ayat 16, yaitu agar kita dapat berpartisipasi dalam menata dan membimbing kehidupan semesta. Konsekuensinya, sudah sepantasnya kita membiarkan Allah yang menjadi Pembimbing dalam upaya kita memahami bagaimana kehidupan semesta ini harus ditata sesuai dengan kehendak Penciptanya.
Sebagai suatu komponen proses pembelajaran, tujuan pembelajaran menduduki posisi penting di antara komponen-komponen lainnya. Dapat dikatakan bahwa seluruh komponen dari seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang, tidak fungsional, bahkan salah, sehingga harus dicegah terjadinya.
Dengan demikian, model pembelajaran dan pendidikan keagamaan harus dirumuskan sesuai dengan realitas yang ada. Memiliki kemampuan membaca al-Qur’an secara baik sesuai dengan kaidah tajwid merupakan tujuan penting membaca al-Qur’an. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan metode yang tepat. Tujuan yang bagus tanpa diikuti metode yang baik akan sulit tercapai. Karena itu, metode yang baik menjadi salah satu sarana tercapainya tujuan.
Realitas di masyarakat menunjukkan bahwa menguasai al-Qur’an membutuhkan proses yang tidak singkat. Dibutuhkan waktu yang lama, bahkan bertahun-tahun agar seseorang bisa membaca al-Qur’an. Kondisi semacam ini telah menumbuhkan inisiatif dan pemikiran dari para ulama untuk menciptakan sebuah metode yang dapat mempercepat proses penguasaan membaca al-Qur’an.
Salah satu metode tersebut adalah metode an-Nahd}iyah. Metode ini lahir dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Tulungagung bersama dengan para kyai dan para ahli di bidang pengajaran al-Qur’an. Metode tersebut diberi nama ”Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an  An-Nahd}iyah”. Lahirnya metode tersebut didasari oleh beberapa pertimbangan. Pertama       , kebutuhan terhadap metode yang cepat dapat diserap oleh anak dalam belajar membaca al-Qur’an sangat dibutuhkan karena padatnya acara yang dimiliki oleh hampir setiap anak yang sedang menempuh jenjang pendidikan sekolah. Kedua, kebututuhan terhadap pola pembelajaran yang berciri khas Nahd}iyin dengan menggabungkan nilai salaf dan metode pembelajaran modern. Ketiga, pembelajaran di TPQ terkait dengan pembelajaran pasca TPQ (Madrasah Diniyah) sehingga keberhasilan di TPQ akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan di Madrasah Diniyah.
Metode an-Nahd}iyah adalah bagian dari metode pembelajaran al-qur’an dan sebagai bagian dari metode islam , terbukti bahwa   metode an-Nahd}iyah berkembang pesat dan diterapkan di berbagai daerah. Tidak hanya di Kabupaten Tulungagung saja, tetapi juga kabupaten-kabupaten lainnya, baik di Jawa maupun luar Jawa. Hal ini merupakan fenomena yang menarik karena metode yang lahir dari Tulungagung ini telah mengantarkan banyak orang untuk bisa membaca al-Qur’an dengan cepat. Berangkat dari fenomena ini, penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang pembelajaran membaca al Qur’an dengan Methode an-Nahd}iyah di Lembaga Pendidikan Ma’arif Nu Cabang Tulungagung .
B.  Fokus Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah sebagaimana dipaparkan tersebut di atas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana proses perencanaan pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam?
2.      Bagaimana proses pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam?
3.      Bagaimana proses evaluasi pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam?
C.  Tujuan Penelitihan
Berdasarkan fokus penelitihan tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.    Untuk mengetahui proses perencanaan pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam.
2.    Untuk mengetahui proses pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam.
3.    Untuk mengetahui proses evaluasi pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam.

D.  Kegunaan Penelitihan
Hasil penelitihan ini diharapkan memberikan kegunaan atau manfaat  sebagai berikut :
1.    Teoritis
Hasil penelitian ini berguna untuk mengembangkan secara teoritis metode Cepat Tanggap Belajar al-Qur’an an-Nahd}iyah agar dapat menjadi lebih baik dengan berdasarkan pada implementasinya di lapangan.
2.    Praktis.
a.       Bagi Majelis Pembina TPQ an-Nahd}iyah dan Pimpinan Cabang  Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Tulungagung dapat menambah wawasan dalam upaya penggalian sejarah Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an an-Nahd}iyah .
b.      Bagi Para pengurus Koordinator Kecamatan (Kortan) se-Kabupaten Tulungagung untuk menambah wawasan berpikir dan mengembangkan pengelolaan Taman Pendidikan al-Qur’an ( TPQ), khususnya yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.
c.       Bagi para guru/ustadz yang mengajar TPQ dengan menggunakan Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an an-Nahd}iyah untuk senantiasa menyadari pentingnya peningkatan kompetensi dan semangat mengajar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
d.      Bagi Peneliti untuk menambah wawasan tentang pembelajaran membaca al-Qur’an dengan menggunakan Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an an-Nahd}iyah dan sejarah pengembangannya.
e.         Bagi kaum Muslimin untuk mengenal peran para tokoh yang terlibat dalam  perintisan munculnya Metode Cepat Tanggap Belajar al-Qur’an an-Nahd}iyah.

E.   Penegasan Istilah
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menghindari kemungkinan terjadinya salah paham dalam tesis dengan judul “Pembelajaran Membaca al-Qur’an dengan Metode an-Nahd}iyah di Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung (Studi Multisitus di TPQ an-Nahd}iyah MIA dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam)”, perlu kiranya penulis memberikan penegasan istilah sebagai berikut:
1.     Koseptual
a.    Pembelajaran al-Qur’an merupakan rangkaian dari dua kata, yaitu kata pembelajaran dan al-Qur’an. Pembelajaran terdiri dari kata belajar yang mendapat awalan pem dan akhiran an. Definisi belajar yang dirumuskan para ahli bermacam-macam. Walker dalam bukunya, Conditioning and Instrumental Learning ( 1976 ) mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yakni perubahan – perubahan sebagai akibat dari pengalaman . C.T. Morgan dalam Introduction to Psychology ( 1961 ) merumuskan belajar sebagai satu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu. Crow & Crow (1985) menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh kebiasaan–kebiasaan pengetahuan dan sikap yang dapat memuaskan minat individu untuk mencapai tujuan. Efendi dan Praja ( 1993 ) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman, merupakan proses kegiatan dan bukan tujuan.[7] Dengan kata lain, belajar adalah suatu proses untuk mengubah performasi yang tidak terbatas pada ketrampilan saja, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi seperti skill, persepsi, emosi, dan proses berpikir sehingga dapat menghasilkan perbaikan performasi.[8]
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan atau trasformasi yang terjadi dalam proses mental yang diperoleh melalui praktik atau latihan yang dapat menunjang perubahan tingkah laku.  Perubahan tersebut diperoleh melalui atau usaha memperoleh pengetahuan, pengertian, dan ketrampilan tertentu sehingga terjadi perubahan atau peningkatan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sementara pembelajaran, ditinjau dari asal katanya adalah terjemahan dari bahasa Inggris “instruction”. Dalam cakupan maknanya, kata pembelajaran lebih luas dari mengajar, bahkan mengajar termasuk dalam aktifitas pembelajaran. Dengan pengertian ini, dapat dibedakan dengan jelas antara belajar mengajar dengan pembelajaran. Istilah pembelajaran ini banyak dipengaruhi oleh Psikologi  Kognitif-Wholistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio, dan lain sebagainya sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, dan guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam mengajar.[9]
Dalam proses pembelajaran, guru melakukan kegiatan yang membawa anak didik ke arah tujuan. Dalam kerangka itu, siswa atau santri melakukan serangkaian kegiatan yang disediakan guru atau ustadz-ustadzah, yaitu kegiatan yang terarah pada tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain, kegiatan guru atau ustadz-ustadzah dengan kegiatan siswa atau santri adalah sejalan dan terarah.
Sedangkan al-Qur’an berasal dari kata qira’ah, yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari qara’a, qira’atan wa qur’anan. Allah menjelaskan dalam Surat al-Qiya>mah: 17-18: 
¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ   #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ  
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”.

Secara khusus, al-Qur’an manjadi nama bagi sebuah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhamad Saw. Para ulama menyebutkan definisi yang khusus, yaitu al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang membacanya merupakan suatu ibadah.[10]
Sedangkan metode merupakan sebuah cara untuk menganalis sebuah persoalan.[11] Metode pendidikan diartikan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya proses belajar mengajar.[12]
Istilah an-Nahd}iyah diambil dari sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu Nahd}atul Ulama’, artinya kebangkitan ulama’. Dari kata Nahd}atul Ulama’ inilah kemudian dikembangkan menjadi metode pembelajaran membaca al-Qur’an, yang diberi nama “Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an an-Nahd}iyah.[13]
Lembaga Pendidikan Ma’arif NU merupakan Badan Otonomi NU yang menangani bidang pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal. Termasuk pendidikan formal adalah MI/SD, MTs , MA/SMA  yang bernaung di bawab panji NU. Adapun pendidikan non-formal  meliputi TPQ, Madrasah Diniyah, dan Pondok Pesantren.  
2.    Operasional
Pembelajaran al-Qur’an  dengan Metode an-Nahd}iyah merupakan  usaha yang dilakukan oleh seseorang di bidang al-Qur’an untuk mempengaruhi para santri agar melakukan aktivitas belajar dengan menggunakan Metode Cepat Tanggap Belajar al-Qur’an an-Nahd}iyah.

F.   Penelitihan Terdahulu Yang Relevan.
Sebuah penelitian membutuhkan referensi dari penelitian sebelumnya. Hal tersebut digunakan guna mencari titik terang sebuah fenomena sebuah kasus tertentu. Kajian terdahulu tersebut sebagai landasan berfikir agar peneliti memiliki rambu-rambu penentu arah yang jelas sehingga penelitian yang terbaru memiliki kedudukan yang jelas dibanding dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang baru sifatnya mendukung, menolak atau memiliki sudut pandang yang berlainan dengan penelitian sebelumnya. Sebagai bahan pertimbangan penulis memaparkan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kependidikan agama khususnya dalam bidang al-Qur’an.
1.     Penelitian oleh Masfaful Aufa: “Kreativitas Ustadz-Ustadzah dalam Pembelajaran Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Ikhlas Samirono Catur Tunggal Dedok Sleman Yogyakarta”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran di TPA Al-Ikhlas menggunakan Metode Iqra’ karangan Ustadz As’ad Hummam. Kurikulum yang digunakan berasal dari AMM Kotagede yang telah dimodifikasi oleh ustadz-ustadzah TPA Al-Ikhlas. Bentuk kreativitas ustadz-ustadzah dapat dikategorikan ke dalam tiga hal, yaitu: tentang mendesain materi pembelajaran, penggunaan strategi, dan pelaksanaan evaluasi.
2.    Penelitian oleh Siti Nurhasanah (2010) yang berjudul, “Metode Active Learning dalam Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Bagi Siswa Kelas VIII MTsN Lab. di UIN Yogyakarta”. Hasil dari penelitian ini adalah: (a) Metode active learning yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an di kelas VIII MTsN Lab. UIN Yogyakarta adalah metode diskusi, metode tanya jawab, metode resitasi, dan tugas belajar. (b) Pelaksanaan dari metode active learning kurang maksimal disebabkan oleh metode active learning digunakan secara campur dan guru mempunyai persepsi yang berbeda berkenaan dalam menerapkan metode. (3) Adapun kendala yang dihadapi: (a) Guru kurang maksimal dalam menerapkan metode yang ada. (b) Lingkungan sekolah yang kurang kondusif karena adanya suara gaduh yang ditimbulkan dari kereta api dan kapal terbang yang berlalu-lalang serta kurangnya fasilitas, media atau alat bantu dalam pelaksanaan metode active learning. (c) Latar belakang kondisi keluarga dan masyarakat siswa yang kurang mendukung dan tidak adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan lingkungan sekitar siswa atau langsung dengan wali murid. Padahal siswa lebih banyak menghabiskan waktu di luar sekolah.
3.    Penelitian oleh Badri  (2010) yang berjudul, “Peran K.H. Munawir Cholid dalam Pengembangan Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an An-Nahdliyah di Tulungagung”. Penelitihan ini menemukan beberapa kesimpulan. Pertama, K.H. Munawir Cholid dalam merupakan perintis, pemrakarsa, sekaligus penggagas TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) an-Nahd}iyah dan Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an an-Nahd}iyah. Kedua, Pengembangan materi  yang dilakukan adalah: (a) Menyusun Buku TPQ an-Nahd}iyah. (b) Melengkapi buku pedoman pengelolaan. (c) Mengurus Hak Cipta.
4.    Penelitihan Rani Syukron (2011), “Strategi Santri Dalam Proses Tahfidz al-Quran di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien (PPHM) Putra dan Asrama Putri Sunan Pandanaran Ngunut Tulungagung”. Penelitian ini menemukan bahwa hingga dewasa ini pesantren telah memberikan kontribusi penting dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, di antaranya: (a) Internalisasi nilai. (b) Kearifan. (c) akhlaq al-karimah. (d) budi luhur.  Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Berdasarkan penelusuran hasil penelitian di atas, belum terdapat penelitian mengenai pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah. Keaslian penelitian ini adalah menekankan pada perencanaan pembelajaran membaca al-Qur’an , proses pembelajaran membaca al-Qur’an dan  proses evaluasi pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah di TPQ MIA dan TPQ Nurul Islam.
Fokus pada pembelajaran membaca al-Qur’an  ini peneliti menganggap penting karena berdasarkan beberapa penelitian tersebut terungkap bahwa tercapai atau tidaknya tujuan dalam membaca al-Qur’an 30 juz, menjaga dan mengamalkannya (al-Qur’an) sangat tergantung pada upaya pembelajaran al-Qur’an  yang di lakukan oleh ustadz/guru  untuk mencapai tujuan tersebut.

G.      Metode Penelitian
1.         Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian, maka penelitian ini merupakan kajian yang mendalam guna memperoleh data yang lengkap dan terperinci. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mendalam mengenai pembelajaran membaca al Qur’an dengan methode cepat tanggap belajar al-Qur’an an-Nahd}iyah dengan pendekatan kualitatif.[14] Pendekatan kualitatif menurut Best, seperti yang dikutip Sukardi adalah metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya.[15] Demikian juga Prasetya mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menjelaskan fakta apa adanya.[16]
Pendekatan kualitatif dipilih, karena pendekatan kualitatif mampu mendeskripsikan sekaligus memahami makna yang mendasari tingkah laku partisipan, mendiskripsikan latar dan interaksi yang kompleks, eksplorasi untuk mengidentifikasi tipe-tipe informasi, dan mendeskripsikan fenomena.[17] Hal ini didukung oleh Mantja, sebagaimana dikutip Moleong, yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Merupakan tradisi Jerman yang berlandaskan idealisme, humanisme, dan kulturalisme; 2) penelitian ini dapat menghasilkan teori, mengembangkan pemahaman, dan menjelaskan realita yang kompleks; 3) Bersifat dengan pendekatan induktif-deskriptif; 4) memerlukan waktu yang panjang; 5) Datanya berupa deskripsi, dokumen, catatan lapangan, foto, dan gambar; 6) Informannya “Maximum Variety”; 7) berorientasi pada proses; 8) Penelitiannya berkonteks mikro.[18]
Peneliti menerapkan pendekatan kualitatif ini berdasarkan beberapa pertimbangan: Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.[19] Dengan demikian, peneliti dapat memilah-milah sesuai fokus penelitian yang telah disusun, peneliti juga dapat mengenal lebih dekat dan menjalin hubungan baik dengan subjek (responden) serta peneliti berusaha memahami keadaan subjek dan senantiasa berhati-hati dalam penggalian informasi subjek sehingga subjek tidak merasa terbebani.
Jika dilihat dari lokasi penelitiannya, maka jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research). Menurut Suryasubrata, penelitian lapangan bertujuan "mempelajari secara intensif latar belakang, keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial; individu, kelompok, lembaga atau masyarakat".[20] Penelitian yang dilakukan ini adalah merupakan penelitian lapangan, karena penelitian ini memang dilaksanakan di dua lokasi, yaitu TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam .
Jenis penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus, yaitu berusaha mendeskripsikan suatu latar, objek atau peristiwa tertentu secara rinci dan mendalam. Studi kasus adalah penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif mengenai unit sosial tertentu, yang meliputi individu, kelompok, lembaga dan masyarakat.[21] Penelitian ini akan menghasilkan informasi yang detail yang mungkin tidak bisa didapatkan pada jenis penelitian lain
Selanjutnya peneliti menggunakan jenis penelitian studi multi kasus (multi-case studies), yang mana penggunaan metode ini karena sebuah inquiry secara empiris yang menginvestigasi fenomena sementara dalam konteks kehidupan nyata (real life context), ketika batas antara fenomena dan konteks tidak tampak secara jelas; dan sumber-sumber fakta ganda yang digunakan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Bogdan dan Biklen bahwa:
when research study two or more subjects, setting or depositories of data they are usually doing what we call muti-case studies. Multi-case studies take a variety of forms. Some start as a single case only to have the original work serve as the first in series of studies or as the pilot for a multi-case study. Other studies are primarily single-case studies but include less intense, less extensive observations at other sites for the purpose of addressing the question of generalizability. Other researchers do comparative case studies. Two or more case studies are done and then compared and contrasted.[22]
Dalam penjelasan lain mengatakan bahwa studi kasus adalah studi yang akan melibatkan kita (peneliti) dalam penyelidikan yang lebih mendalam dan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap tingkah laku seseorang individu. Penelitian terhadap latar belakang dan kondisi dari individu, kelompok, atau komunitas tertentu dengan tujuan untuk memberikan gambaran lengkap mengenai subjek atau kejadian yang diteliti. Penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisme, lembaga, atau gejala tertentu.[23] Studi kasus adalah suatu inquiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas dan multi sumber bukti dimanfaatkan.[24]
Sebagai penelitian studi multi kasus, maka langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) melakukan pengumpulan data pada kasus pertama, yaitu TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan. Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan data; 2) melakukan pengumpulan data pada kasus kedua, yaitu TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam.
2.         Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil dua lokasi, lokasi penelitian yang pertama adalah TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ) dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam .
TPQ an-Nahd}iyah MIA  yang beralamat di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu tepatnya berada di lokasi Pondok Pesantren MIA       ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ). Sedangkan lokasi yang kedua adalah TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam yang beralamat di Desa Jabalsari Kec. Sumbergempol  Tulungagung.
Peneliti mengambil kedua lokasi tersebut karena pemilihan dan penentuan lokasi tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa pertimbangan atas dasar kekhasan, kemenarikan, keunikan dan sesuai dengan topik dalam penelitian ini. Adapun beberapa alasan yang cukup signifikan mengapa penelitian ini dilaksanakan pada kedua lembaga tersebut tersebut adalah alasan yang berkenaan dengan lokasi penelitian dan alasan yang bersifat substantif penelitian.
Lokasi menunjukkan data-data yang unik dan menarik untuk diteliti jika dianalisis dengan perkembangan kedua lembaga tersebut sampai sekarang, yaitu:
a.         Kedua lembaga TPQ  tersebut merupakan lembaga pendidikan yang cukup mempunyai nama dan image di masyarakat Tulungagung.
b.        Kedua lembaga TPQ  tersebut merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai prestasi dan mutu yang cukup gemilang di kabupaten Tulungagung, terbukti dengan adanya prestasi yang bagus.
c.         Kedua lembaga TPQ  tersebut merupakan lembaga pendidikan yang melaksanakan metode an-Nahd}iyah dan nilai-nilai agama dalam melaksanakan pendidikan. 
Demikianlah alasan yang peneliti kemukakan sehingga kedua lembaga TPQ  tersebut yang menurut peneliti unik dan menarik untuk diteliti.
3.         Kehadiran Peneliti
Untuk memperoleh data sebanyak mungkin, detail dan juga orisinil maka selama penelitian di lapangan, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat atau instrumen pengumpul data utama. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus pengumpul data, karena dalam penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah manusia.[25]  Dalam rangka mencapai tujuan penelitian maka peneliti di sini sebagai instrumen kunci. Peneliti akan melakukan obsevasi, wawancara dan pengambilan dokumen.
Untuk mendukung pengumpulan data dari sumber yang ada di lapangan, peneliti juga memanfaatkan buku tulis, paper dan juga alat tulis seperti pensil juga bolpoin sebagai alat pencatat data. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dapat menunjang keabsahan data sehingga data yang didapat memenuhi orisinalitas. Maka dari itu, peneliti selalu menyempatkan waktu untuk mengadakan observasi langsung ke lokasi penelitian, dengan intensitas yang cukup tinggi.
4.         Data dan Sumber data
Data dalam penelitian ini berarti informasi atau fakta yang diperoleh melalui pengamatan atau penelitian di lapangan yang bisa dianalisis dalam rangka memahami sebuah fenomena atau untuk mensuport sebuah teori.[26] Dalam penelitian kualitatif data disajikan berupa uraian yang berbentuk deskripsi. Untuk mendapatkan data tersebut peneliti perlu menentukan sumber data dengan baik, karena data tidak akan diperoleh tanpa adanya sumber data. Pengambilan data dalam penelitian ini dengan cara snowball sampling yaitu informan kunci akan menunjuk orang-orang yang mengetahui masalah yang akan diteliti untuk melengkapi keterangannya dan orang-orang yang ditunjuk dan menunjuk orang lain bila keterangan kurang memadai begitu seterusnya.[27]
Pemilihan dan penentuan jumlah sumber data tidak hanya didasarkan pada banyaknya informan, tetapi lebih dipentingkan pada pemenuhan kebutuhan data. Sehingga sumber data di lapangan bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.
Kelompok sumber data dalam penelitian kualitatif dikelompokkan sebagai berikut:
a.         Narasumber (informan)
Dalam penelitian kualitatif, posisi narasumber sangat penting sebagai individu yang memiliki informasi. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama, dan narasumber bukan sekedar memberikan tanggapan yang diminta peneliti, tetapi bisa memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia miliki. Karena posisi ini, sumber data yang berupa manusia lebih tepat disebut sebagai informan.[28]
b.        Peristiwa atau aktivitas
Peristiwa digunakan peneliti untuk mengetahui proses bagaimana sesuatu secara lebih pasti karena menyaksikan sendiri secara langsung. Contohnya jalannya perkuliahan, program-program yang dijalankan, dan lain-lain. Di sini peneliti akan melihat secara langsung peristiwa yang terjadi terkait dengan pembelajaran Al – Qur’an  di kedua lokasi tersebut , TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam .
c.         Dokumen atau arsip
Dokumen merupakan bahan tertulis atau benda yang berhubungan dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Dokumen dalam penelitian ini bisa berupa catatan tertulis, rekaman, gambar atau benda yang berkaitan dengan segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran Al-Qur’an  di TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam .
5.         Teknik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian selalu terjadi pengumpulan data. Terdapat berbagai jenis teknik yang digunakan dalam pengumpulan data disesuaikan dengan sifat penelitian yang dilakukan. Teknik yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data tersebut adalah sebagai berikut:
a.         Wawancara  Mendalam
Sumber data yang sangat penting dalam penelitian kualitatif adalah yang berupa manusia yang dalam posisi sebagai nara sumber atau informan. Untuk mengumpulkan informasi dari sumber data ini diperlukan teknik wawancara.[29]
Wawancara ini dilakukan utuk memperoleh data yang berupa konstruksi tentang orang, kejadian, aktifitas organisasi, perasaan motivasi, dan pengakuan.[30] Wawancara mendalam adalah percakapan antara dua orang dengan maksud tertentu dalam hal ini antara peneliti dengan informan, dimana percakapan yang dimaksud tidak sekedar menjawab pertanyaan dan mengetes hipotesis yang menilai sebagai istilah percakapan  dalam pengertian sehari-hari, melainkan suatu percakapan yang mendalam untuk mendalami pengalaman dan makana dari pengalaman tersebut.
Dalam wawancara ini peneliti terlebih dahulu menyiapkan siapa yang akan diwawancarai dan menyiapkan materi yang terkait dengan manajemen personalia. Oleh karena itu sebelum dilakukan wawancara, garis besar pertanyaan harus sesuai dengan penggalian data dan kepada siapa wawancara itu dilaksanankan. Di sela percakapan itu diselipkan pertanyaan pancingan dengan tujuan untuk menggali lebih dalam lagi tentang hal-hal yang diperlukan.
Melakukan wawancara, disediakan perekam suara bila diizinkan oleh informan, tetapi jika tidak diizinkan peneliti akan mencatat kemudian menyimpulkannya. Sering dialami bahwa ketika dipadukan dengan informasi yang diperoleh dari informan lain, sering bertentangan satu dengan yang lain. Sehingga data yang menunjukkan ketidaksesuaian itu hendaknya dilacak kembali kepada subyek terdahulu untuk mendapatkan kebenaran atau keabsahan data. Dengan demikian wawancara tidak cukup dilakukan hanya sekali.
Pihak yang akan diwawancarai antara lain kepala TPQ, guru-guru dan tenaga kependidikan, serta semua orang yang terkait dengan pembelajaran membaca al-Qur’an  dalam meningkatkan mutu di TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ) dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam .
b.        Observasi Partisipan
Observasi dilakukan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat, benda, serta rekaman dan gambar.[31] Dalam penelitian ini dilaksanakan dengan teknik (participant observation), yaitu dilakukan dengan cara peneliti melibatkan diri atau berinteraksi pada kegiatan yang dilakukan oeh subyek penelitian dalam lingkungannya, selain itu juga mengumpulkan data secara sistematik dalam bentuk catatan lapangan.[32] Teknik inilah yang disebut teknik observasi partisipan.
Dalam penelitian ini, peneliti akan datang langsung ke TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ) yang  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam untuk melihat peristiwa ataupun mengamati data , serta mengambil dokumentasi dari tempat atau lokasi peneltian yang terkait pembelajaran membaca al-Qur’an  dalam meningkatkan mutu di TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ) dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam . Jadi posisi peneliti sebagai observer aktif ataupun pasif.
c.         Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dari sunber-sumber non-insani.[33] Dalam penelitian ini peneliti mengambil data berupa catatan, transkrip, buku, agenda, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk lebih meyakinkan akan kebenaran objek yang akan diteliti.
Peneliti akan melakukan pencatatan dengan lengkap dan cepat setelah data terkumpul, agar terhindar dari kemungkinan hilangnya data. Karena itu pengumpulan data dilakukan secara terus-menerus dan baru berakhir apabila terjadi kejenuhan, yaitu dengan tidak ditemukannya data baru dalam penelitian. Dengan demikian dianggap telah diperoleh pemahaman yang mendalam terhadap kajian ini.
Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan, sehingga peneliti menggunakan ketiga metode yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi agar saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini bertujuan agar data yang diperoleh menghasilkan temuan yang valid dan reliabel.
6.         Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Moleong adalah “proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.[34] Sementara itu Bogdan dan Biklen mengemukakan, bahwa analisis data adalah proses pencarian dan pengaturan secara sistematik hasil wawancara, catatan-catatan dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan.[35] 
Analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis data interaktif (interactive model) terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: (1) reduksi data (data reduction), (2) penyajian data (data display), dan (3) penarikan kesimpulan/verivikasi (conclution drawing/verification).[36]
Ketiga alur tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
a.         Reduksi data
Menurut Miles dan Huberman, reduksi data merupakan suatu kegiatan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah yang didapat dari catatan-catatan yang tertulis di lapangan.[37] Dalam mereduksi data, semua data lapangan ditulis sekaligus dianalisis, direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema da polanya, sehingga disusun secara sistematis dan lebih mudah dikendalikan.
b.        Penyajian data
Di dalam penelitian ini, data yang didapat berupa kalimat, kata-kata yang berhubungan dengan fokus penelitian, sehingga sajian data merupakan sekumpulan informasi yang tersusun secara sistematis yang memberikan kemungkinan untuk ditarik kesimpulan. Dengan kata lain, proses penyajian data ini merupakan proses penyusunan informasi secara sistematis dalam rangka memperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai temuan penelitian.
c.         Penarikan kesimpulan
Pada saat kegiatan analisis data yang berlangsung secara terus menerus selesai dikerjakan, baik yang berlangsung di lapangan, maupun setelah selesai di lapangan, langkah selanjutnya adalah melakukan penarikan kesimpulan. Untuk mengarah pada hasil kesimpulan ini tentunya berdasarkan dari hasil analisis data, baik yang berasal dari catatan lapangan, observasi, dokumentasi dan lain-lain yang didapatkan pada saat melaksanakan kegiatan di lapangan.[38]
Mengacu pada pendapat Miles dan Huberman, bahwa penelitian ini dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sehingga datanya sampai pada titik jenuh. Proses penelitian ini berbentuk siklus meliputi pengumpulan data, display data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
Berikut adalah “model interaktif” yang digambarkan oleh Miles dan Huberman:
 




Gambar 1.1: Analisis Data Model Interaktif[39]
Analisis data model interaktif yang peneliti gunakan sebenarnya merupakan analisis induktif. Analisis induktif adalah cara berpikir yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus kemudian fakta-fakta tersebut diambil kesimpulan secara umum.[40] Peneliti menggunakan analisis ini untuk menarik kesimpulan umum dari data khusus yang ada di lapangan.
7.         Pengecekan Keabsahan Temuan
Untuk mengecek atau memeriksa keabsahan data mengenai pembelajaran membaca al-Qur’an dalam meningkatkan mutu di Taman Pendidikan Al-qur’an  di TPQ an-Nahd}iyah MIA (Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam  berdasarkan data yang terkumpul,  selanjutnya ditempuh beberapa teknik keabsahan data, meliputi: kredibilitas, trasferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas.[41] Keabsahan dan kesahihan data mutlak diperlukan dalam studi kualitatif. Oleh karena itu dilakukan pengecekan keabsahan data. Adapun perincian dari teknik di atas adalah sebagai berikut:
a.         Keterpercayaan  (Credibility)
 Kriteria ini dipergunakan  untuk membuktikan, bahwa data   seputar pembelajaran membaca al-Qur’an  dalam meningkatkan mutu Taman Pendidikan al- Qur’an  di TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam yang diperoleh dari beberapa sumber di lapangan benar-benar mengandung nilai kebenaran (truth value). Dengan merujuk pada pendapat Lincoln dan Guba,[42] maka untuk mencari taraf keterpercayaan penelitian ini akan ditempuh upaya sebagai berikut:
1)        Trianggulasi
Trianggulasi ini merupakan cara yang paling umum digunakan bagi peningkatan validitas data dalam penelitian kualitatif. Dalam pandangan Moleong, trianggulasi adalah “teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding keabsahan data”.[43] Dengan cara ini peneliti dapat menarik kesimpulan yang mantap tidak hanya dari satu cara pandang sehingga dapat diterima kebenarannya.
Penerapannya, peneliti membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara serta data dari dokumentasi yang berkaitan. Dengan demikian apa yang diperoleh dari sumber yang dapat teruji kebenarannya bilamana dibandingkan data yang sejenis yang diperoleh dari sumber lain yang berbeda. Sumber tersebut antara lain: anak didik, dengan orang tua, anak didi dengan pendidik, atau orang tua dengan kerabat dekat. Trianggulasi berfungsi untuk mencari data, agar data yang dianalisis tersebut shahih dan dapat ditarik kesimpulan dengan benar.
2)        Pembahasan Sejawat
Pemeriksaan sejawat menurut Moleong adalah teknik yang dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.[44] Dari informasi yang berhasil digali, diharapkan dapat terjadi perbedaan pendapat yang akhirnya lebih memantapkan hasil penelitian. Jadi pengecekan keabsahan temuan dengan menggunakan metode ini adalah dengan mencocokkan data dengan sesama peneliti.
3)        Memperpanjang Keikutsertaan
Seperti yang telah dikemukakan bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci, maka keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Agar data yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan pengamatan dan wawancara tentunya tidak dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan dalam penelitian.
b.        Keteralihan (Transferability)
Standar transferability ini merupakan pertanyaan empirik yang tidak dapat dijawab oleh peneliti kualitatif sendiri, melainkan dijawab dan dinilai oleh pembaca laporan penelitian. Hasil penelitian kualitatif memiliki standar transferability yang tinggi bilamana para pembaca laporan penelitian ini memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian. Dalam prakteknya peneliti meminta kepada beberapa rekan akademisi dan praktisi pendidikan untuk membaca draft laporan penelitian untuk mengecek pemahaman mereka mengenai arah hasil penelitian ini.
Teknik ini digunakan untuk membuktikan bahwa hasil penelitian mengenai menajemen personalia dalam meningkatkan mutu sekolah dapat ditransformasikan/dialihkan ke latar dan subyek lain. Pada dasarnya penerapan keteralihan merupakan  suatu upaya berupa uraian rinci, penggambaran konteks tempat penelitian, hasil yang ditemukan sehingga dapat dipahami oleh orang lain. 
c.         Kebergantungan (Dependability)
 Teknik ini dimaksudkan untuk membuktikan hasil penelitian ini mencerminkan kemantapan dan konsistensi dalam keseluruhan proses penelitian, baik dalam kegiatan pengumpulan data, interpretasi temuan maupun dalam melaporkan hasil penelitian. Salah satu upaya untuk menilai dependabilitas adalah melakukan audit dependabilitas itu sendiri. Ini dapat dilakukan oleh auditor, dengan melakukan review terhadap seluruh hasil penelitian. Dalam teknik ini peneliti meminta beberapa ekspert untuk mereview atau mengkritisi hasil penelitian ini. Mereka adalah pembimbing dan dosen-dosen yang lain.
d.        Kepastian (Confirmability)
Standar konfirmabilitas lebih terfokus pada audit kualitas dan kepastian hasil penelitian. Audit ini dilakukan bersamaan dengan audit dependabilitas. Teknik ini digunakan  untuk mengadakan pengecekan  kebenaran data mengenai peran kesungguhan belajar, motivasi pendidik serta dukungan spiritual orang tua dalam meningkatkan prestasi belajar anak didik dan berbagai aspek yang melingkupinya  untuk memastikan  tingkat validitas hasil penelitian. Kepastian mengenai tingkat obyektivitas hasil penelitian sangat tergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat dan penemuan penelitian. Dalam penelitian ini dibuktikan melalui pembenaran Kepala TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal )  dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam  melalui surat izin penelitian yang diberikan dari STAIN kepada TPQ An-Nahdliyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ) dan TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam  serta bukti fisik berupa dokumentasi hasil penelitian.
8.         Tahap-tahap Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang ditulis oleh Moleong, yaitu "tahap pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data",[45] hingga sampai pada laporan hasil penelitian.
a.         Tahap Pra-lapangan
Pada tahap pra-lapangan ini, peneliti mulai dari mengajukan judul kepada ketua program studi Pendidikan Islam, kemudian peneliti membuat proposal penelitian yang judulnya sudah disetujui. Peneliti mempersiapkan surat-surat dan kebutuhan lainnya sebelum memasuki lokasi penelitian dan juga peneliti selalu memantau perkembangan yang terjadi di lokasi penelitian.
b.        Tahap Pekerjaan Lapangan
Setelah mendapat ijin dari masing-masing kepala TPQ an-Nahd}iyah MIA ( Ma’hadul ‘ilmi wal ‘amal ) dan kepala TPQ an-Nahd}iyah Nurul Islam , peneliti kemudian mempersiapkan diri untuk memasuki TPQ  tersebut demi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dalam pengumpulan data. Peneliti terlebih dahulu menjalin keakraban dengan responden dalam berbagai aktivitas, agar peneliti diterima dengan baik dan lebih leluasa dalam memperoleh data yang diharapkan.
c.         Tahap Analisis Data
Setelah peneliti mendapatkan data yang cukup dari lapangan, peneliti melakukan analisis terhadap data yang telah diperoleh dengan teknik analisis yang telah peneliti uraikan di atas, kemudian menelaahnya, membagi dan menemukan makna dari apa yang telah diteliti. Untuk selanjutnya, hasil penelitian dilaporkan dan disusun secara sistematis.

H.      Sistematika Pembahasan
Sebagai laporan penelitihan, teisis ini akan disusun dengan tata urutan yang telah ditentukan dalam pedoman penulisan tesis yang telah ditertibkan oleh Program Pascasarjana STAIN Tulungagung, yaitu tersusun atas bab dan bebarapa sub bab.
Sistematika penulisan tesis ini terdiri dari lima  bab, yaitu:
Bab I Berupa pendahuluan. Bab ini terdiri atas latar belakang masalah yang memaparka masalah tentang pembelajaran membaca al-Qur’an. Kemudian dari latar belakang masalah tersebut, diidentifikasi tentang  fokus masalah yang bertujuan untuk menetukan fokus penelitihan, agar penelitihan tersebut lebih terarah. Bagian berikutnya dipaparkan mengenahi  tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah baik secara konseptual maupun operasional, penelitihan terdahulu, serta metode yang akan digunakan dalam penulisan tesis ini. 
Bab II Kajian Pustaka, dalam kajian pustaka ini membahas tentang kajian  pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode an-Nahd}iyah yang meliputi: definisi pembelajaran , definisi Al-Qur’an, proses perencanaan pembelajaran al-Qur’an, proses pembelajaran membaca al-Qur’an dan proses evaluasi pembelajaran membaca al-Qur’an.
Bab III Metode Penelitian, yang terdiri dari: pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran peneliti, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, pengecekan keabsahan temuan, tahap-tahap penelitian.
Bab IV Hasil dan Pembahasan, yang berisi hasil dari penelitian serta diskusi dengan teori dan implikasinya.
Bab V Penutup. Bab ini terdiri atas kesimpulan yang diambil dari uraian pada bab-bab sebelumnya, serta saran yang berisikan tentang implikasi untuk meningkatkan dan mengembangkan pembelajaran membaca al-Qur’an.



DAFTAR RUJUKAN SEMENTARA

Amin, Gabriel Silalahi, Metodologi Penelitian Studi Kasus,. (Sidoarjo: Citramedia, 2003).
Bogdan, Robert C. dan Sari Knopp Biklen, Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. (Boston: Aliyn and Bacon, Inc., 1998).
Departemen Agama, al Qur’an dan Terjemahnya. (Jakarta: Proyek pengadaan Kitab Suci al Qur’an Depag RI , 1979 / 1980)
El-Mazni, Ainur Rofiq, Pengantar Studi Ilmu al Qur’an. (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2006).
Faisal, Sanapiah, Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi. (Malang: YA3, 1990).
Faisol , Gus Dur & Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011).
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research. (Yogyakarta: Andi Offset, 1989).
Huberman, A. Mikel & Miles M.B, Qualitative Data Analisis. (Beverly Hills: SAGE Publication, Inc, 1992).
Irawan, Prasetya, Logika dan Prosedur Penelitian: Pengantar Teori dan Panduan Praktis Penelitian Sosial bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula. (Jakarta: STAIN, 1999).
Jack, C. Richards, Longman Dictionary of Language Teaching and Appied Linguistics.  (Malaysia: Longman Group, 1999).
K. Yin, Robert, Studi Kasus Desain dan Metode, terj. M. Djauzi Mudzakir. (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1996).
Lincoln, Y.S., & Guba E. G, Naturalistic Inquiry. (Beverly Hill: SAGE Publication. Inc, 1985).
Mantja, W., Etnografi Desain Penelitian Kualitatif dan Manajemen Pendidikan. (Malang: Winaka Media, 2003).
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999).
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian: Paradigma Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2007).
PP Majlis Pembina TPQ An-Nahdliyah , Pedoman pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an Matode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an An-Nahdliyah. (Tulungagung: LP Ma’arif, 2008).
Riyanto, M. Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2010).
Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi. (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).
Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Prakteknya. (Jakarta: Bumi Aksara, 2005)
Suryasubrata, Sumadi, Metodologi Penelitian. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998).
Sutopo, H.P., Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis). (Malang: Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang, t.t.).
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam : Berbasis Integrasi dan Kompetensi. (Jakarta : Raja Geafindo Persada, 2005).
Wiriaatmaja, Rochiati, Metode Penelitian Tindakan Kelas. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007).

























TIME SCHEDULE PENULISAN TESIS
PEMBELAJARAN MEMBACA AL QUR’AN DENGAN METODE AN–NAHD}IYAH DI LEMBAGA PENDIDIKAN  MA’ARIF NU
CABANG TULUNGAGUNG

No
Kegiatan
Bulan
Pebruari
2012
Maret
2012
April
2012
Mei
2012
Juni
2012
Juli
2012
Agustus
2012
1.
Pengajuan Judul Tesis
X






2.
Persetujuan Judul Tesi

X





3.
Bimbingan Proposal tesis

X





4.
Revisi dan penandatanganan proposal

X





5.
Pendaftaran Ujian proposal

X
X




6.
Ujian Proposal


X




7.
Revisi/Penyerahan Proposal Tesis ke PPs


X




8.
Pembahasan Bab I


X




9.
Pembahasan Bab II


X




10.
Pembahasan Bab III



X



11.
Pembahasan Bab IV



X



12.
Pembahasan Bab V




X


13.
Bimbingan Tesis


X
X
X


14.
Pendaftaran Ujian Tesis




X


15.
Ujian Tesis




X


16.
Revisi Tesis




X
X

17
Penyerahan Ex Summary





X


















BAB II
LANDASAN TEORI

A.     DASAR – DASAR PEMBELAJARAN AL QUR’AN

Pendidikan di Indonesia dalam lintas sejarah pernah digiring ke dalam pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan agama diwakili oleh lembaga pesantren yang bersifat pribumi, sedangkan pendidikan umum diwakili oleh lembaga pendidikan yang didirikan oleh penjajah. Pemisahan ini berkaitan dengan usaha untuk meredam daya kritis umat Islam dengan menjauhkan mereka dari modernisasi pendidikan. Umat Islam dibiarkan mengembangkan pendidikan yang berorientasi ukhrowi semata dan meninggalkan pendidikan yang berorientasi membangun peradaban yang maju.
Pendobrak hegemoni penjajah ini adalah sebagaian ulama Indonesia yang kritis seperti K.H. Ahmad Dahlan, dan Syeikh Ahmad Syurkati. Mereka mencoba menggabungkan antara pendidikan agama dengan pendidikan modern dengan tujuan mengeluarkan umat Islam dari belenggu kebodohan akibat sistem yang dibangun oleh penjajah.  Ada dua faktor yang mendorong usaha pengintegrasian antara pendidikan agama dengan pendidikan modern, yakni :
a. Faktor internal. Faktor pendorong yang berasal dari dalam diri ulama yang bersifat kritis terhadap permasalahan. Mereka melihat ada kejumudan dalam diri umat Islam yang ditunjukkan dalam praktek pendidikan yang berorientasi akhirat semata. Sedangkan dalam diri mereka tertanam idiologi kuat bahwa syariat Islam yang rahmatan lil’alamin merupakan syari’at yang sempurna dan menyeluruh. Islam tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
b. Faktor eksternal. Adanya usaha dari penjajah untuk melanggengkan kebodohan dan kemiskinan bangsa terutama umat islam agar tidak mampu memberikan perlawanan. Usaha ini diantaranya dengan mendirikan sekolah modern yang hanya diperuntukkan untuk kaum bangsawan dan borjuis semata. Sedangkan rakyat biasa tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan modern.
K.H. Ahmad Dahlan dengan daya kritisnya telah berhasil merintis lembaga pendidikan yang mengintegrasikan antara pendidikan modern dan pendidikan agama yang seimbang. Hasilnya ribuan sekolah sekarang tersebar di nusantara. Syeikh Ahmad Syurkati juga mencoba untuk merintis pendidikan terpadu yang tidak mementingkan salah satu dari ilmu ukhrowi dan ilmu duniawi.
Sebagai suatu komponen proses pembelajaran, tujuan pembelajaran menduduki posisi penting diantara komponen-komponen lainnya. Dapat dikatakan bahwa seluruh komponen dari seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang, tidak fungsional, bahkan salah, sehingga harus dicegah terjadinya.

Sehubungan dengan fungsi tujuan yang sangat penting itu, maka suatu keharusan bagi mereka yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran Alquran (pendidik-peserta didik) untuk memahaminya. Kekurang pahaman terhadap tujuan pembelajaran dapat mengakibatkan kesalahpahaman di dalam melaksanakan proses pembelajaran. Gejala demikian oleh Langeveld disebut salah teoritis (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 37 : 2000).
Proses pembelajaran melibatkan banyak hal, yaitu :
1) Subjek yang dibimbing (peserta didik).
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya

2) Orang yang membimbing (pendidik).
Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/organisasi.
3) Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
4) tujuan pendidikan itu bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.
5) Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
Materi yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan.
6) Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).
Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.
7) Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).
Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.[46]



B.     METHODE PEMBELAJARAN AL QUR’AN
Menurut  Dr. A’isyah Abdurrohman seorang guru Besar sastra dan Bahasa arab Universitas “Ayn Syams , Kairo-Mesir dalam buku Tafsir Bintusy – Syathi mengemukakan tentang methode pembelajaran al Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Khuli dalam bukunya , Manahij Tajdid ( Kairo: Dar Al ma’arif. 1961) le dalam empat butir : 
1.      Basis metodenya adalah memperlakukan apa yang dipahami dari Al Qur’an secara objektif, dan hal ini dimulai dengan pengumpulan semua surah dan ayat mengenahi topic yang inhin dipelajari.
2.      Untuk memahami gagasan tertentu yang terkandung didalam Al Qur’an , menurut konteknya , ayat – ayat disekitar pewahyuannya , hingga keterangan – keterangan mengenahi wahyu dan tempat dapat diketahuyi.
3.      Karena bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al Qur’an , maka untuk memahami arti kata-kata yang termuat dalam kitab suci itu harus dicari linguistic aslinya yang memiliki rasa kearaban kata tersebut dalam berbagai penggunaan material dan figuratifnya. Dengan demikian , maka al Qur’an diusut melalui pengumpulan seluruh bentuk kata di daam al Qur’an dan mempelajari konteks spesifik kata itu dalam ayat – ayat dan surat – surah tertentu decara konteks umumnya dalam Al Qur’an.
4.      Untuk memahami pernyataan yang sulit, naskah yang ada dalam susunan Al Qur’an itu dipelajari untuk mengetahui kemungkinan maksudnya. Baik bentuk lahir maupun semangat teks itu harus dipwerhatikan . Apa yang telah dikatakan oleh para mufasir . Dengan demikian diuji kaitannya dengan naskah yang sedang dipelajari , dan hanya sejalan dengan naskah yang diterima. Penggunaan tata- bahasa dan retorika dalam Al Qur’an harus dipandang sebagai criteria kaidah – kaidah para ahli tata-bahasa dan retorika harus dinalia , bukan sebaliknya sebab kebanyakan para ahli , bahsa arab merupakan hasil capaian dan bukan bersifat alamiah. [47]

1.      Macam-macam Metode Pembelajaran Al-Qur'an
Dalam proses pembelajaran, Al Qur’an  metode mempunyai peranan sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Diantara metode – metode pembelajaran al qur’an adalah sebagai berikut :
a.   Metode Iqro’
Metode iqro’ adalah suatu metode membaca Al-Qur'an yang menekankanlangsung pada latihan membaca. Adapun buku panduan iqro’ terdiri dari 6 jilid dimulai dari tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang sempurna.Metode Iqro’ ini disusun oleh Ustadz As’ad Human yang berdomisili diYogyakarta. Kitab Iqro’ dari ke-enam jilid tersebut di tambah satu jilid lagi yang berisi tentang doa-doa. Dalam setiap jilid terdapat petunjuk pembelajarannya dengan maksud memudahkan setiap orang yang belajar maupun yang mengajar    Al-Qur'an.Metode iqro’ ini dalam prakteknya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada bacaannya (membaca huruf Al-Qur'an dengan fasih). Bacaan langsung tanpa dieja. Artinya tidak diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar siswa aktif (CBSA) dan lebih bersifatindividual.
Adapun kelemahan dan kelebihan metode Iqro’ adalah:
1.      Kelebihan metode Iqro’ antara lain :
a.       Menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif melainkan santriyang dituntut aktif. 
b.      Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama) privat, maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah).
c.       Komunikatif artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan sanjungan, perhatian dan peng-hargaan.
d.      Bila ada santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan system tadarrus, secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.
e.       Bukunya mudah di dapat di toko-toko.
2.      Kekurangan  metode Iqro’ antara lain :
a.       Bacaan-bacaan tajwid tak dikenalkan sejak dini. 
b.       Tak ada media belajar 
c.       Tak dianjurkan menggunakan irama murottal

b.    Metode Al-Baghdad
       Metode al Baghdady adalah metode tersusun ( tarkibiyah ) . maksudnya suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah prosesulang atau lebih dikenal dengan sebutan metode alif , ba’ , ta,.
Metode ini adalah metode yang paling lama muncul dan metode yang pertama berkembang di Indonesia.
Cara pembelajaran dengan metode al Baghsadi ini adalah :
a.         Hafalan . jadi para siswa siswi / para santri diharuskan untuk menghafal terhadap materi yang sudah di pelajarai pada setiap kali pertemuan . setelah pertemuan berikutnya para siswa untuk menyetorkan hafalan nya didepan kelas dan disimak oleh seorang guru.
b.         Dengan meng – eja ( artinya )  setiap kali pertemuan seorang guru menulis dipapan tulis terhadap materi , lalu membacakannya dengan mengijrah , siswa siswi menirukan sehingga terjalin komunikasi antara guru dan murid .
c.         Modul  . Para siswa diberi modul untuk dipelajari dan dibaca atau bahkan menulis terhadap materi yang sudah dipelajari .
d.         Tidak Variatif , pemberian contoh .
Berkenaan dengan metode al Baghdady ini terdapat kelebihan dan kekurangan dalam proses belajar huruf Al Qur’an .
Adapun keklebihannya antara lain :
1.         Santri akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi , santri sudah hafal – huruf hijaiyah.
2.         Santri yang lancer akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya karena tidak menunggu orang lain.
Sedangkan kekurangan metode Al Baghdady adalah :
1.         Membutuhkan waktu yang lama karena harus menghafal huruf hijaiyah dan harus dieja.
2.         Santri kurang aktif karena harus mengikuti ustadz – ustadznya dalam membaca.
3.         Kurang Variatif karena menggunakan satu jilid saja.

c.     Metode An – Nahdliyah
       Metode An – Nahdliyah adalah salah satu metode membaca Al-Qur’an yang muncul di Kabupaten  Tulungagung , Propinsi Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung.  Dipimpin oleh seorang K.H. Munawir Cholid ( Alm )  sebaga ketua dan dibantu oleh Drs. Chamim Thoha , H. Abdul Manaf , H. effendi Aris , drs. Khanan Muhtar , Drs. Ma’sum farid ( Alm ) Syamsu Dhuha , Masruhan , Sumardi Thohor, dan KH. ‘Asyim Mu’alim ( Alm ).
       Metode An-Nahdliyah ini merupakan pengembangan dari metode Baghdady, maka materi pembelajaran al qur’an tidak jauh berbeda dengan metode Qiroati dan Iqro’. Dan perlu diketahui bahwa pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran al qur’an pada metode ini lebih menekankan pada kode “ Ketukan “ . Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para santri yaitu :
1.         Program buku paket
         Program buku paket ( PBP ) , program awal yang dipandu dengan buku paket 
         Cepat Tanggap Belajar Al-Qur'an An Nahdilyah sebanyak enam jilid yang
         dapat ditempuh kurang lebih enam bulan.
2.      Program Sorogan Al-Qur'an ( PSQ , yaitu program lanjutan sebagai aplikasi
         praktis untuk menghantar santri mampu membaca Al-Quran sampai khatam
         30 juz. Pada program ini santri dibekali dengan sistem bacaan ghoroibul
                 Qur’an tartil tahqiq dan taghonni . Untuk menyelesaikan program ini diperlukan waktu  kurang lebih 20   bulan.
         Dalam metode ini buku paketnya tidak dijual bebas bagi yang ingin menggunakannya atau inginmenjadi guru harus sudah mengikuti mengikuti penataran calon guru methode an – Nahdliyah
Adapun ciri khusus metode ini adalah :
a.    Materi pelajaran disusun secara berjenjang dalam buku paket 6 Jilid.
b.    Pengenalan huruf sekaligus diawali dengan latihan dan pemantaban makhorijul huruf dan sifatul huruf.
c.    Penerapan qoidah tajwid dilaksanakan secara praktis dan dipandu dengan  titian  murotal,
d.    Santri lebih dituntut memiliki pengertian yang dipandu dengan asas CBSA melalui pendekatan ketrampilan proses.
e.    Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal untuk  tutoria  dengan   materi yang sama agar terjadi proses musafahah.
f.      Evaluasi dilaksanakan secara kontinyu dan berkelanjutan
g.    Metode Ini merupakan pengembangan dari Qoidah Baghdadiyah

d.         Metode Jibril
Secara Terminologi ( istilah ) Metode Jibril yang digunakan sebagai nama dari pembelajaran Al Qur’an yang diterapkan di PIQ Singosari Malang jawa Timur. Adalah dilatarbelakangi firman Alloh Swt kepada nabi Muhamad SAW untuk mengikuti bacaan Al Qur’an yang telah diwahyukan melalui Malaikat Jibril .
Menurtut KH.M. Bashori Alwi ( dalam Taufiqur-rohman ) sebagai pencetus metode Jibril , bahwa teknik dasar metode Jibril bermula dengan membaca satu ayat atau lanjutan ayat atau waqof, lalu ditirukan oleh seluruh orang – orang yang mengaji. Sehingga mereka dapat menirukan bacaan guru dengan pas .
Adapun metode jibril ini terdapat 2 tahab yaitu :
1.      Tahqiq
Yang dimaksud sistem bacaan tahqiq adalah membaca Al-Qur'an dengan menjaga agar supaya bacaannya sampai kepada hakekat bacaan. Sehingga makharijul huruf, shifatul huruf dan ahkamul huruf benar-benar tampak dengan jelas. Gunanya bacaan tahqiq ini untuk menegakkan bacaan Al-Qur'an sampai sebenarnya tartil. Dengan demikian setiap bacaan tahqiq mesti tartil.
2.      Tartil
Yang dimaksud sistem bacaan tartil adalah membaca Al-Qur'an dengan pelan  dan jelas sekira mampu diikuti oleh orang yang menulis            bersamaan  dengan yang membaca.

e.         Metode Qiro’ati
Metode Qiro’ati disusun oleh Ustdz Dahlan Salaim Zarkazy pada tanggal 1 Juli 1986.
Adapu penyusun buku Qiro’ati adalah HM. Nur Shodiq Ahrom ( Ngembul kalipare ) dalam buku “ Sistem Qo’idah Qiro’ati “ .Metode ini membaca al qur’an yang langsung mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan Qoidah ilmu Tajwid sistem pendidikan dan pengajaran . Metode Qiroati ini melalui sistem pendidikan berpusat pada murid dan kenaikan kelas / jilid tidak ditentukan oleh bulan / tahun dan tidak secara klasikal , tapi secara indifidual ( perseorangan ) . Santri / anak dapat naik kelas / jilid berikutnya dengan syarat :
1.    Sudah mengusahi materi / paket 0elajaran yang diberikan di kelas.
2.    Lulus tes yang telah diujikan oleh sekolah / TPA
Prinsip – prinsip dasar metode Qiro’ati :
Prinsip-prinsip yang dipegang oleh guru / ustdadz dalam pembelajaran metode Qiro’ati adalah :
a.    Tiwagas ( Teliti , wasdapada dan Tegas )
b.   Daktun ( tidak boleh menuntun )

f.          Metode Tartila

C.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METHODE CEPAT TANGGAP AL QUR’AN  AN- NAHDLIYAH

D.     PERKEMBANGAN METHODE CEPAT TANGGAP AL QUR’AN AN- NAHDLIYAH.
















BAB I
PENDAHULUAN





[1]Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh. (Kuwait: Dar al-Qalam, t.t.), 32-33
[2]Ibid.
[3]Ibid., 34-35.
[4]M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan, 1992), 27, 40.
[5]Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. (Bandung: Angkasa, 1990), 3.
[6]Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Depag RI , 1979/1980), 437.
[7]M. Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2010), 23.
[8]Ibid., 24.
[9]Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. (Bandung: Alfabeta, 2007), 61.
[10]Ainur Rofiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006),  16.
[11]Faisol, Gus Dur dan Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 12.
[12]Ibid.
[13]PP Majelis Pembina TPQ An-Nahdliyah, Pedoman Pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an An-Nahdliyah. (Tulungagung: LP Ma’arif, 2008).
[14]Noeng Muhadjir, Metodologi Keilmuan: Paradigma Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2007), 136-195.
[15]Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Prakteknya. (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), 157.
[16]Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian: Pengantar Teori dan Panduan Praktis Penelitian Sosial bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula. (Jakarta: STAIN, 1999), 59.
[17]Sanapiah Faisal, Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi. (Malang: YA3, 1990), 22.
[18]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), 24.
[19]Ibid..., 9-10.
[20]Sumadi Suryasubrata, Metodologi Penelitian. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), 22.
[21]M. Yatim Riyanto, Metodologi,..., 24.
[22]Robert C. Bogdan dan Sari Knopp Biklen, Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. (Boston: Aliyn and Bacon, Inc., 1998), 62.
[23]Gabriel Amin Silalahi, Metodologi Penelitian Studi Kasus. (Sidoarjo: Citramedia, 2003), 62.
[24] Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode, terj. M. Djauzi Mudzakir. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), 18.
[25]Rochiati Wiriaatmaja, Metode Penelitian Tindakan Kelas. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 96.
[26]Jack. C. Richards, Longman Dictionary of Language Teaching and Appied Linguistics.  (Malaysia: Longman Group, 1999), 96.
[27]W. Mantja, Etnografi Desain Penelitian Kualitatif dan Manajemen Pendidikan. (Malang: Winaka Media, 2003), 7.
[28]H.B. Sutopo, Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis. (Malang: Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang, t.t.), 111.
[29]Ibid..., 117.
[30]W. Mantja, Etnografi Desain…., 7.
[31]Sutrisno Hadi, Metodologi Research. (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), 91.
[32]Ibid..., 69.
[33]Ibid..., 75.
[34]Moleong, Metodologi Penelitian....,  280.
[35]Bogdan dan Biklen, Qualitative Research …, 145.
[36]Huberman A. Mikel & Miles M.B, Qualitative Data Analisis. (Beverly Hills: SAGE Publication, Inc, 1992), 16-21.
[37]Ibid…, 16.
[38]Ibid…, 21.
[39]Ibid..., 23.
[40]Sutrisno Hadi, Metodologi…, 42.
[41]Y. S. Lincoln, & Guba E. G, Naturalistic Inquiry. (Beverly Hill: SAGE Publication. Inc, 1985), 301.
[42]Ibid..., 301.
[43]Moleong, Metodologi Penelitian ..., 330.
[44]Ibid..., 332.
[45]Ibid..., 127.
[46] http://sutris.blogspot.com/2011/06/proses-pembelajaran-alquran.html diakses hari selasa tanggal 14 Pebruari 2012.

[47] Dr. “Aisyah “Abdurrohman Bintusy-Syathi . Al Tafsir Al bayani Lil Qur’an al karim , terbitan Dar al Ma’arif, Cet. VII, Kairo , 1990. Penerjemah: Drs. Mudzakir Abdussalam,M.A

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar